Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2013

Keagungan peranmu dalam hidupku ya Umii


Oleh
 Ustadz Abdullâh bin Taslîm al-Buthoni MA


 Agama Islam sangat memuliakan dan mengagungkan kedudukan kaum perempuan, dengan menyamakan mereka dengan kaum laki-laki dalam mayoritas hukum-hukum agama Islam, dalam kewajiban bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla , menyempurnakan keimanan, dalam pahala dan siksaan, serta keumuman anjuran dan larangan dalam Islam.

 Allah Azza wa Jalla berfirman:

 وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

 Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia orang yang beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun [an-Nisâ'/4:124]

 Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla berfirman :

 مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [an-Nahl/16:97] [1]

 Sebagaimana Islam juga sangat memperhatikan hak-hak kaum perempuan, dan mensyariatkan hukum-hukum yang agung untuk menjaga dan melindungi mereka.[2]

 Syaikh Shâlih al-Fauzân –hafizhahullâh- berkata, "Wanita Muslimah memiliki kedudukan (yang agung) dalam Islam, sehingga banyak tugas (yang mulia dalam Islam) yang disandarkan kepadanya. Oleh karena itu, Nabi k selalu menyampaikan nasehat-nasehat yang khusus bagi kaum wanita [3] , bahkan beliau n menyampaikan wasiat khusus tentang wanita dalam khutbah beliau di ‘Arafah (ketika haji wada').[4] Ini semua menunjukkan wajibnya memberikan perhatian kepada kaum wanita di setiap waktu…[5] .

 TUGAS DAN PERAN WANITA
 Agungnya tugas dan peran wanita ini terlihat jelas pada kedudukannya sebagai pendidik pertama dan utama generasi muda Islam, yang dengan memberikan bimbingan yang baik bagi mereka, berarti telah mengusahakan perbaikan besar bagi masyarakat dan umat Islam.

 Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn berkata: "Sesungguhnya kaum wanita memiliki peran yang agung dan penting dalam upaya memperbaiki kondisi masyarakat, hal ini karena upaya memperbaiki kondisi masyarakat itu ditempuh dari dua sisi:

 Pertama: Perbaikan kondisi di luar rumah, yang dilakukan di pasar, mesjid dan tempat-tempat lainnya di luar rumah. Perbaikan ini didominasi oleh kaum laki-laki, karena merekalah orang-orang yang beraktifitas di luar rumah.

 Kedua: Perbaikan di balik dinding (di dalam rumah), yang ini dilakukan di dalam rumah. Tugas (mulia) ini umumnya disandarkan kepada kaum wanita, karena merekalah pemimpin/pendidik di dalam rumah, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla kepada istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

 Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. [al-Ahzâb/33:33]

 Oleh karena itu, tidak salah kalau sekiranya kita mengatakan bahwa sesungguhnya kebaikan separuh atau bahkan lebih dari jumlah masyarakat disandarkan kepada kaum wanita. Hal ini dikarenakan dua hal:

 1. Jumlah kaum wanita sama dengan jumlah laki-laki, bahkan lebih banyak dari laki-laki. Ini berarti umat manusia yang terbanyak adalah kaum wanita, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : .…Berdasarkan semua ini, maka kaum wanita memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki kondisi masyarakat.

 2. Awal mula tumbuhnya generasi baru adalah dalam asuhan para wanita, dan ini semua menunjukkan mulianya tugas kaum wanita dalam memperbaiki masyarakat.[6]

 Inilah makna ucapan seorang penyair yang berkata:

 اْلأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا
 أَعْدَدْتَ شَعْباً طَيِّبَ الأَعْرَاقِ
 Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya

 Berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya[7]

 BAGAIMANA SEORANG WANITA MEMPERSIAPKAN DIRINYA AGAR MENJADI PENDIDIK YANG BAIK BAGI ANAK?
 Agar seorang wanita berhasil mengemban tugas mulia ini, maka dia perlu menyiapkan dalam dirinya faktor-faktor yang sangat menentukan dalam hal ini, di antaranya:

 1. Berusaha Memperbaiki Diri Sendiri.
 Faktor ini sangat penting, karena bagaimana mungkin seorang ibu bisa mendidik anaknya menjadi orang yang baik kalau dia sendiri tidak memiliki kebaikan tersebut dalam dirinya? Sebuah ungkapan Arab yang terkenal mengatakan:

 فَاقِدُ الشَّيْءِ لا يُعْطِيْهِ

 Sesuatu yang tidak punya tidak bisa memberikan apa-apa.[8]

 Maka, kebaikan dan ketakwaan seorang pendidik sangat menentukan keberhasilannya dalam mengarahkan anak didiknya kepada kebaikan. Oleh karena itu, para Ulama sangat menekankan kewajiban meneliti keadaan seorang yang akan dijadikan sebagai pendidik dalam agama.

 Dalam sebuah ucapannya yang terkenal Imam Muhammad bin Sirîn rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu (yang kamu pelajari) adalah agamamu (yang akan membimbingmu mencapai ketakwaan), maka telitilah dari siapa kamu mengambil (ilmu) agamamu.”[9]

 Faktor penting inilah yang merupakan salah satu sebab utama yang menjadikan para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi generasi terbaik umat ini dalam pemahaman dan pengamalan agama mereka. Bagaimana tidak? Da’i dan pendidik mereka adalah nabi yang terbaik dan manusia yang paling mulia di sisi Allahk , yaitu Nabi kita Muhammad bin `Abdillâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makna inilah yang diisyaratkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

 وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ

 Bagaimana mungkin (baca: tidak mungkin) kalian (wahai para Sahabat Nabi), (sampai) menjadi kafir, karena ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian (sebagai pembimbing). [Ali ‘Imrân/3:101]

 Contoh lain tentang peranan seorang pendidik yang baik adalah apa yang disebutkan dalam biografi salah seorang Imam besar dari kalangan tabi’in, Hasan bin Abil Hasan al-Bashri rahimahullah [10] , ketika Khâlid bin Shafwân rahimahullah [11] menerangkan sifat-sifat Hasan al-Bashri rahimahullah kepada Maslamah bin `Abdul Mâlik rahimahullah [12] dengan berkata, “Dia adalah orang yang paling sesuai antara apa yang disembunyikannya dengan apa yang ditampakkannya, paling sesuai ucapan dengan perbuatannya. Kalau dia duduk di atas suatu urusan maka diapun berdiri di atas urusan tersebut…dan seterusnya”. Setelah mendengar penjelasan tersebut Maslamah bin `Abdul Mâlik rahimahullah berkata, “Cukuplah (keteranganmu), bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat (dalam agama mereka) kalau orang seperti ini (sifat-sifatnya) ada di tengah-tengah mereka?” [13]

 Oleh karena itulah, ketika seorang penceramah mengadu kepada Imam Muhammad bin Wâsi’ rahimahullah [14] tentang sedikitnya pengaruh nasehat yang disampaikannya dalam merubah akhlak orang-orang yang diceramahinya, maka Muhammad bin Wâsi’ rahimahullah berkata, “Wahai Fulan, menurut pandanganku, mereka ditimpa keadaan demikian (tidak terpengaruh dengan nasehat yang kamu sampaikan) tidak lain sebabnya adalah dari dirimu sendiri. Sesungguhnya peringatan (nasehat) itu jika keluarnya ikhlas dari dalam hati, maka akan mudah masuk ke dalam hati orang yang mendengarnya.” [15]

 2. Menjadi Teladan Yang Baik Bagi Anak-Anak.
 Faktor ini sangat berhubungan erat dengan faktor yang pertama, akan tetapi kami jelaskan secara terpisah karena sangat penting.

 Menampilkan teladan yang baik dalam sikap dan tingkah laku di depan anak didik termasuk metode pendidikan yang paling baik dan utama. Bahkan para Ulama menjelaskan bahwa pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan dan tingkah laku yang langsung terlihat terkadang lebih besar dari pada pengaruh ucapan. [16]

 Hal ini disebabkan jiwa manusia itu lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang terlihat di hadapannya, dan menjadikannya lebih semangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan. [17]

 Oleh karena itulah, dalam banyak ayat al-Qur'ân Allah Azza wa Jalla menceritakan kisah-kisah para Nabi Alaihissallam yang terdahulu, serta kuatnya kesabaran dan keteguhan mereka dalam mendakwahkan agama Allah Azza wa Jalla untuk meneguhkan hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dengan mengambil teladan yang baik dari mereka.[18] Allah Azza wa Jalla berfirman:

 وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

 Dan semua kisah para Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. [Hûd/11:120]

 Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah ketika menjelaskan pengaruh tingkah laku buruk seorang ibu dalam membentuk kepribadian buruk anaknya, beliau berkata, "Jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya, dan lain sebagainya, maka ini secara tidak langsung merupakan pendidikan yang berupa praktek nyata bagi anaknya untuk mengarahkannya kepada penyimpangan akhlak dan memalingkannya dari pendidikan, baik yang membuahkan hasil terpuji berupa kesadaran untuk memakai hijab pakaian yang menutup aurat, menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta memiliki rasa malu. Inilah yang dinamakan dengan 'pengajaran pada fitrah manusia' ".[19]

 Sehubungan dengan hal ini, Imam Ibnul Jauzi rahimahullah membawakan sebuah ucapan seorang Ulama Salaf yang terkenal, Ibrâhîm al-Harbi [20]. Dari Muqâtil bin Muhammad al-'Ataki, beliau berkata, “Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishâk Ibrâhîm al-Harbi, maka beliau bertanya kepada ayahku, "Mereka ini anak-anakmu?". Ayahku menjawab, "Ya". Beliau berkata kepada ayahku, "Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah Azza wa Jalla , sehingga menyebabkan wibawamu jatuh di mata mereka."[21]

 3. Memilih Metode Pendidikan Yang Baik Bagi Anak
 Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimîn rahimahullah berkata, "Yang menentukan keberhasilan pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan taufik dari Allah Azza wa Jalla . Jika seorang hamba bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla serta berusaha menempuh metode pembinaan yang sesuai syariat Islam, maka Allah Azza wa Jalla akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak). Allah Azza wa Jalla berfirman:

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

 Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya. [ath-Thalâq/65:4] [22]

 Termasuk metode pendidikan yang benar adalah membiasakan anak-anak sejak dini melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya sebelum mereka mencapai usia dewasa. Hal itu agar mereka terbiasa dalam ketaatan.

 Imam Ibnu Hajar al-'Asqalâni rahimahullah ketika menjelaskan makna hadits yang shahîh ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Hasan bin 'Ali Radhiyallahu anhu memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan Radhiyallahu anhu masih kecil,[23] beliau menyebutkan bahwa di antara kandungan hadits ini adalah, bolehnya membawa anak kecil ke masjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat bagi mereka, serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu) yaitu perbuatan yang diharamkan dalam agama, meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat. Tujuannya adalah agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut. [24]

 Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata, "Contoh pembinaan awal yang diharamkan dalam Islam adalah memakaikan anak-anak kecil pakaian yang menampakkan aurat. Hal ini menjadikan mereka terbiasa dengan pakaian dan perhiasan tersebut sampai dewasa. Padahal, pakaian tersebut menyerupai pakaian orang-orang kafir, menampakkan aurat dan merusak kehormatan."[25]

 Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimîn rahimahullah ketika ditanya, “Apakah diperbolehkan bagi anak kecil, laki-laki maupun perempuan, untuk memakai pakaian pendek yang menampakkan pahanya? Beliau menjawab, "Sudah diketahui bahwa anak kecil yang umurnya di bawah tujuh tahun, tidak ada hukum (larangan menampakkan) bagi auratnya, akan tetapi membiasakan anak-anak kecil memakai pakaian yang pendek dan menampakkan aurat seperti ini tentu akan membuat mereka terbiasa membuka aurat setelah dewasa. Bahkan, bisa jadi seorang anak setelah dewasa tidak malu menampakkan pahanya, karena sejak kecil dia terbiasa menampakkannya dan tidak peduli dengannya… Maka menurut pandanganku anak-anak harus dilarang memakai pakaian seperti ini, meskipun mereka masih kecil. Hendaknya mereka memakai pakaian yang sopan dan jauh dari pakaian yang dilarang dalam agama."[26]

 Seorang penyair mengungkapkan makna ini dalam syairnya:

 Anak kecil itu akan tumbuh dewasa di atas apa yang terbiasa (didapatkannya) dari orang tuanya

 Sesungguhnya di atas akarnyalah pohon itu akan tumbuh.[27]

 Senada dengan syair di atas ada pepatah arab yang mengatakan:
 "Barangsiapa yang ketika muda terbiasa melakukan sesuatu maka ketika tuapun dia akan terus melakukannya" [28] .

 4. Kesungguhan Dan Keseriusan Dalam Mendidik Anak
 Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata, "Anak-anak adalah amanah (titipan Allah Azza wa Jalla) kepada kedua orang tua atau orang yang bertanggungjawab atas urusan mereka. Maka, syariat Islam mewajibkan mereka menunaikan amanah ini dengan mendidik mereka berdasarkan petunjuk agama Islam, serta mengajarkan kepada mereka hal-hal yang menjadi kewajiban mereka, dalam urusan agama maupun dunia. Kewajiban pertama yang hendaknya diajarkan kepada mereka adalah menanamkan ideologi tentang iman kepada Allah Azza wa Jalla , para malaikat, kitab-kitab suci, para Rasul Alaihissallam, hari akhirat, dan mengimani takdir Allah Azza wa Jalla yang baik dan buruk, juga memperkokoh pemahaman tauhid yang murni dalam jiwa mereka, agar menyatu ke dalam relung hati mereka. Kemudian, mengajarkan rukun-rukun Islam pada diri mereka, selalu menyuruh mereka mendirikan shalat, menjaga kejernihan bakat-bakat mereka yang baik, menumbuhkan pada watak mereka akhlak yang mulia dan tingkah laku yang baik, serta menjaga mereka dari teman pergaulan dan pengaruh luar yang buruk.

 Inilah rambu-rambu pendidikan Islam yang diketahui dalam agama ini secara pasti oleh setiap Muslim. Karena pentingnya hal itu, para Ulama menulis kitab-kitab khusus (untuk menjelaskannya)…bahkan metode pendidikan seperti ini termasuk petunjuk para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bimbingan orang-orang yang bertakwa (para Ulama salaf)." [29]

 Lebih lanjut, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimîn rahimahullah menekankan pentingnya masalah ini dalam ucapan beliau, "Pada masa awal pertumbuhan anak-anak, yang selalu bersama mereka adalah seorang ibu. Maka, jika sang ibu memiliki akhlak dan perhatian yang baik kepada mereka, tentu mereka akan tumbuh dan berkembang dengan baik dalam asuhannya, dan ini akan memberikan dampak positif yang besar bagi perbaikan masyarakat Muslim.

 Oleh karena itu, wajib bagi seorang wanita yang mempunyai anak, untuk memberikan perhatian besar kepada anaknya dan kepada upaya mendidiknya dengan pendidikan yang baik. Jika dia tidak mampu melakukannya seorang diri, maka dia bisa meminta tolong kepada suaminya atau orang yang bertanggung jawab atas urusan anak tersebut.

 Dan tidak pantas seorang ibu bersikap pasrah dengan kenyataan (buruk yang ada), dengan mengatakan, "Orang lain sudah terbiasa melakukan kesalahan dalam masalah ini dan aku tidak bisa merubah keadaan ini."

 Karena kalau kita terus menerus pasrah dengan kenyataan buruk ini, maka nantinya tidak akan ada perbaikan, sebab dalam perbaikan harus ada upaya merubah yang buruk dengan cara yang baik, bahkan merubah yang sudah baik menjadi lebih baik lagi supaya semua keadaan kita benar-benar menjadi baik.

 Di samping itu, sikap pasrah pada kenyataan buruk yang ada adalah hal yang tidak diperbolehkan dalam syariat Islam. Oleh karena itulah, ketika Allah Azza wa Jalla mengutus Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaumnya yang berbuat syirik (bangsa Arab jahiliyyah), yang masing-masing mereka menyembah berhala, memutuskan hubungan kekeluargaan, berbuat aniaya dan melampaui batas terhadap orang lain tanpa alasan yang benar, pada waktu itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap pasrah pada kenyataan yang ada, bahkan Allah Azza wa Jalla sendiri tidak mengizinkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap pasrah pada kenyataan buruk tersebut. Allah Azza wa Jalla memerintahkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , "Maka sampaikanlah (secara terang-terangan) segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah (jangan pedulikan) orang-orang yang musyrik" [al-Hijr/15:94]."[30]

 PENUTUP
 Demikianlah, semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada para wanita Muslimah agar mereka menyadari mulianya tugas dan peran mereka dalam Islam, dan agar mereka senantiasa berpegang teguh dengan petunjuk-Nya dalam mendidik generasi muda Islam serta dalam urusan-urusan kehidupan lainnya.

 [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIII/1429/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
 _______
 Footnote
 [1]. Lihat keterangan Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab Hirâsatul fadhîlah hlm. 17
 [2]. Lihat kitab Al-Mar'ah, Baina Takrîmil Islâm Wa Da'âwât Tahrîr. hlm. 6
 [3]. Misalnya dalam HSR al-Bukhâri no. 3153 dan Muslim no. 1468
 [4]. Dalam HSR Muslim no. 1218
 [5]. Kitab At-Tanbîhât 'Alâ Ahkâmin Takhtashshu Bil Mu'minât hlm. 5
 [6]. Kitab Daurul Mar-ati Fî Ishlâhil Mujtamâ' hlm. 3-4
 [7]. Dinukil oleh Syaikh Shaleh al-Fauzân dalam kitab Makânatul Mar-ati Fil Islâm hlm. 5
 [8]. Dinukil oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam kitab At-Tawassul, 'Anwâ'uhu Wa Ahkâmuhu hlm. 74
 [9]. Muqaddimah Shahîh Muslim 1/12
 [10]. Beliau adalah imam besar dan terkenal dari kalangan Tabi’in ‘senior’ (wafat 110 H), memiliki banyak keutamaan sehingga sebagian dari Ulama menobatkannya sebagai tabi’in yang paling utama, biografi beliau dalam kitab Tahdzîbul Kamâl 6/95 dan Siyar A’lâmin Nubalâ’ 4/563
 [11]. Beliau adalah Abu Bakr Khâlid bin Shafwân bin al-Ahtam al-Minqari al-Bashri, seorang yang sangat fasih dalam bahasa Arab, biografi beliau dalam kitab Siyar A’lâmin Nubalâ’ 6/226
 [12]. Beliau adalah Maslamah bin `Abdil Mâlik bin Marwân bin al-Hakam (wafat 120 H), seorang gubernur dari Bani Umayyah, saudara sepupu Umar bin `Abdul Azîz rahimahullah dan meriwayatkan hadits darinya, biografi beliau dalam kitab Tahdzîbul Kamâl 27/562 dan Siyar A’lâmin Nubalâ’ 5/241
 [13]. Siyar A’lâmin Nubalâ' 2/576
 [14]. Beliau adalah Muhammad bin Wâsi’ bin Jâbir bin al-Akhnas al-Azdi al-Bashri (wafat 123 H), seorang imam dari kalangan tabi’in ‘junior’ yang taat beribadah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits. Imam Muslim mengeluarkan hadits beliau dalam kitab Shahîh Muslim. Biografi beliau dalam kitab Tahdzîbul Kamâl 26/576 dan Siyar A’lâmin Nubala’ 6/119
 [15]. Kitab Siyar A’lâmin Nubalâ’ 6/122
 [16]. Lihat Al-Mu'in 'Ala Tahshîli Adabil 'Ilmi hlm. 50 dan Ma'âlim Fî Tharîqi Thalabil 'Ilmi hlm. 124
 [17]. Lihat keterangan Syaikh `Abdurrahmân as-Sa'di dalam tafsir beliau hlm. 271
 [18]. Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr 2/611
 [19]. Kitab Hirâsatul Fadhîlah hlm. 127-128
 [20]. Beliau adalah imam besar, penghafal hadits, Syaikhul Islam Ibrâhîm bin Ishâk bin Ibrâhîm bin Basyîr al-Baghdâdi al-Harbi (wafat 285 H), biografi beliau dalam Siyar A'lâmin Nubala' 13/356
 [21]. Kitab Shifatush Shafwah 2/409
 [22]. Kutubu Wa Rasâ-ilu Syaikh Muhammad bin Shâleh al-'Utsaimîn 4/14
 [23]. HSR al-Bukhâri no. 1420 dan Muslim no. 1069
 [24]. Fathul Bâri 3/355
 [25]. Kitab Hirâsatul Fadhîlah hlm. 10
 [26]. Kitab Majmû'atul As-ilah Tahummul Usratal Muslimah hlm. 146
 [27]. Kitab Adabud Dunya Wad Dîn hlm. 334
 [28]. Dinukil dan dibenarkan oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-'Utsaimîn dalam Majmû'atul As-ilah Tahummul Usratal Muslimah hlm. 43
 [29]. Kitab Hirâsatul Fadhîlah hlm. 122
 [30]. Kitab Daurul Mar-ati Fî Ishlâhil Mujtama' hlm. 14-15

sumber

Kamis, 15 Maret 2012

Bacalah Jeritan Hati Ini

 
Saudariku.. . Muslimah

Begitu "Indah" foto-fotomu yang kau upload dan pajang di albummu, sehingga memancing komentator mengeluarkan decak keindahan dan kekaguman pula..

Ya.. auratmu itu kini terpampang, bisa dinikmati oleh jutaan orang didumay ini..
Tahukah engkau betapa rendahnya nilai wanita demikian? Jangankan dimata Tuhanmu, dimata dunia saja sudah mampu ditaksir harganya..

Tanyalah kepada seleb yang mereka dipakai sebagai mode, berapa rupiahkan nilai tubuh mereka ? MURAH.. !! KARENA MASIH SEHARGA DUNIA dan BANYAK YANG MAMPU MEMBELINYA !!!

Tahukah engkau berapa nilai istri-istri dan wanita sholehah ? Bandingannya adalah nyawa dan darah kami para suaminya !! Cobalah ...siapa yang berani menghina istri-istri kami dan wanita-wanita sholehah, maka taruhannya adalah darah dan nyawa kami!! Bukan selembar cek yang tiada harganya !!!

Mengapa engkau tak ingin menjadi berharga dan bernilai mahal ? Islam telah memberikan panduan agar bagaimana engkau menjadi mutiara dan ratu bukan malah menjadi SAMPAH yang setelah dipakai, lalu bau dan hancur masuk ke pelimbahan !!

Engkau pasti sadar, apa dan bagaimana yang ada di otak otak mereka para komentator "Nakal".. mereka bukan kagum, tapi hanya ingin sekedar mencicipi mu lalu menjadikanmu mainan setelah bosan melemparnya ketepian jurang...

Tahukah engkau, seburuk-buruknya Lelaki PEZINA tetap mengharapkan beristri seorang wanita yang "Murni emas" bukan besi yang dijemur dan usang serta berkarat !!!

Kasihani dirimu, .. apa yang kau lakukan takkan pernah menggapai kepuasan, yang ada... engkau setelah dinikmati lalu dicampakkan, dibuang, dan sakit berkepanjangan ..

Belum telat.. masih ada saat untuk bertaubat.. selama engkau masih bernafas dan nyawamu belum sampai dikerongkongan..
Allah Maha Penerima Taubat bagi hamba-hambaNya yang mengharap dan datang mendekatinya baik dengan berlari ataupun melangkah dengan tertatih tatih ..

Ingatlah..disaat engkau hancur engkau akan sendirian, semua fans mu akan jauh menghindar, bukankah engkau jijik saat melihat onggokan sampah yang sudah dikerubuti lalat dan belatung ?
Bukankah engkau muntah dan menutup hidung ?
Bukankah engkau akan menyingkirkannya dengan kakimu lantaran jijik dan memuakkan? Nah begitulah kelak engkau akan diperlakukan, didunia dan diakhirat pula .. Sebagaimana engkau memperlakukan sebuah SAMPAH.. INGATLAH ... SAMPAH Saudariku !!

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (QS Al-Ahzab [33] : 59)

Sabtu, 18 Februari 2012

Untukmu Ukhti Muslimah…


[Nasihat Ringkas Tentang Jilbab - Dari Radio Rodja]


Wahai Saudari Muslimah, siapakah yang menyuruhmu untuk berjilbab?
Untukmu ukhti muslimah…
kemana akan kau bawa dirimu?


kepada gemerlapnya dunia?
gemilaunya harta?
atau pada ketampanan seorang pria?
walaupun kau harus membuka hijabmu
demi mendapat semua yang kau inginkan,
maka kehinaan yang kau dapatkan!
Wahai Saudari Muslimah, siapakah yang munyuruhmu untuk berhijab?
Untukmu ukhti muslimah…
kemana akan kau bawa dirimu?
kepada kemuliaan jiwa?
kepada keridhaan sang pencipta?
atau mulianya menjadi bidadari surga?
walaupun hinaan dan cacian yang harus kau terima
demi menjaga hijab yang telah disyariatkan oleh agama,
maka kebahagiaan yang akan kau dapatkan!
Katakan TIDAK pada gemerlapnya dunia!
jika hijabmu harus terlepas karenanya
Katakan TIDAK pada kemilaunya harta!
jika hijabmu harus menjadi tebusannya
karena hijabmu,
adalah benteng kemuliaan dirimu
bahwasannya yang menyuruhmu untuk berjilbab
yang menyuruhmu untuk berbusana muslimah
yang menyuruhmu ialah Allah dan Rasul-NYa
dan konsekwensi kita sebagai seorang muslim maupun muslimah
wajib untuk taat pada Allah Ta’ala
karena Allah yang menciptakan kita
Allah yang memberikan rizki pada kita
Allah yang memberikan segalanya kepada kita
Al-Qur’an menyuruh kita untuk berhijab

Allah yang menciptakan kita yang menyuruh kita untuk berjilbab!
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”
(QS.al-Ahzab:59)


Jika seandainya manusia (wanita muslimah) tidak berbusana Muslimah, tidak berjilbab,
maka manusia ini akan rusak dan hancur, akan binasa.”
Setiap wanita, TIDAK ADA UDZUR (tidak ada alasan) untuk tidak memakai busana muslimah.

Sabtu, 03 Desember 2011

KETIKA AKHWAT JATUH CINTA

Akhwat Jatuh Cinta?? Tak ada yang aneh, mereka juga adalah manusia...
Bukankah cinta adalah fitrah manusia???

Tak pantaskah akhwat jatuh cinta???
Mereka juga punya hati dan rasa...
Tapi tahukah kalian betapa berbedanya mereka saat cinta seorang lelaki menyapa hatinya???
Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu di wajah, tak ada buncah suka di dada..
Namun sebaliknya...
Ketika Akhwat Jatuh Cinta...
Yang mereka rasakan adalah penyesalan yang amat sangat, atas sebuah hijab yang tersingkap...
Ketika lelaki yang tak halal baginya, bergelayut dalam alam fikirannya,
yang mereka rasakan adalah ketakutan yang begitu besar akan cinta yang tak suci lagi...

Ketika rasa rindu mulai merekah di hatinya,
yang mereka rasakan adalah kesedihan yang tak terperih akan sbuah asa yang tak semestinya…
Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu…
Yang ada adalah malam-malam yang dipenuhi air mata penyesalan atas cinta-Nya yang ternodai…
Yang ada adalah kegelisahan, karena rasa yang salah arah…
Yang ada adalah penderitaan akan hati yang mulai sakit… Ketika Akhwat Jatuh Cinta…
Bukan harapan untuk bertemu yang mereka nantikan, tapi yang ada adalah rasa ingin menghindar dan menjauh dari orang tersebut…
Tak ada kata-kata cinta dan rayuan…
Yang ada adalah kekhawatiran yang amat sangat,
akan hati yang mulai merindukan lelaki yang belum halal atau bahkan tak akan pernah halal baginya…

Ketika mereka jatuh cinta, maka perhatikanlah, kegelisahan di hatinya yang tak mampu lagi memberikan ketenangan di wajahnya yang dulu teduh…
Mereka akan terus berusaha mematikan rasa itu bagaimanapun caranya…
Bahkan kendati dia harus menghilang, maka itu pun akan mereka lakukan... Alangka kasihannya jika akhwat jatuh cinta…
Karena yang ada adalah penderitaan…
Tapi ukhti…
Bersabarlah…
Jadikan ini ujian dari Rabbmu…

Matikan rasa itu secepatnya…
Pasang tembok pembatas antara kau dan dia…
Pasang duri dalam hatimu, agar rasa itu tak tumbuh bersemai…
Cuci dengan air mata penyesalan akan hijab yang sempat tersingkap...
Putar balik kemudi hatimu, agar rasa itu tetap terarah hanya padaNya…
Pupuskan rasa rindu padanya dan kembalikan dalam hatimu rasa rindu akan cinta Rabbmu… Ukhti… Jangan khawatir kau akan kehilangan cintanya…
Karena bila memang kalian ditakdirkan bersama, maka tak akan ada yang dapat mencegah kalian bersatu…
Tapi ketahuilah, bagaimana pun usaha kalian untuk bersatu, jika Allah tak menghendakinya, maka tak akan pernah kalian bersatu…

Ukhti… Bersabarlah… Biarkan Allah yang mengaturnya...
Maka yakinlah... Semuanya akan baik-baik saja…

Sabtu, 26 November 2011

Hukum Memakai Wewangian dan keluar rumah sendirian bagi wanita

Keluarnya wanita ke pasar dengan mengenakan wewangian hukumnya haram, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Apabila seorang wanita mengenakan wewangian lalu melewati orang-orang, maka ia demikian dan demikian”

Maksudnya adalah pezina [1]

Demikian itu karena mengandung fitnah. Tapi jika wanita iatu akan menaiki mobil dan tidak mencium aromanya kecuali oleh mahramnya, maka ia boleh mengenakannya, lalu sesampainya di tempat tujuan, langsung turun dari kendaraan tanpa melewati laki-laki di sekitar sekolahnya, maka hal ini dibolehkan karena tidak mengandung bahaya, sebab keberadaannya di dalam mobil seperti halnya di rumahnya. Karena itu, seseorang tidak boleh membiarkan isterinya atau wanita yang dibawah tanggung jawabnya, untuk menaiki kendaraan sendirian hanya bersama sopirnya, karena yang demikian ini termasuk khulwah. Seorang wanita juga tidak boleh mengenakan wewangian bila akan melewati kaum laki-laki.

Pada kesempatan ini saya ingin mengingatakan kaum wanita, bahwa di hari-hari bulan Ramadhan, sebagian mereka membawa wewangian dan memberikan kepada sesama wanita, lalu para wanita itu keluar dari masjid dengan mengenakan wewangian, padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Wanita mana pun yang menyentuh wewangian, maka tidak boleh mengikuti shalat Isya bersama kami” [2]

Namun demikian, dibolehkan membawa pewangi untuk mengharumkan masjid, adapun jika dimaksudkan untuk hiasan yang ditampakkan kepasa sesama wanita, maka, setiap hiasan yang dibolehkan untuk ditampakkan kepada sesama wanita hukumnya halal, sedangkan yang tidak boleh maka hukumnya tidak halal, seperti : mengenakan pakaian yang sangat tipis sehingga menampakkan kulitnya, atau pakaian yang sangat ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Semua ini termasuk dalam kategori yang telah disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Dua golongan manusia yang termasuk penghuni neraka yang belum pernah aku lihat ; ,,,, dan kaum wanita yang berpakaian tapi telanjang, menarik perhatian dan berlenggak lenggok, seolah-olah di atas kepalanya punuk unta yang bergoyang-goyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aromanya” [3]

[Minal Ahkam Al-Fiqhiyyah Fil Fatawa An-Nisa’iyyah, hal. 53-54, Syaikh Ibnu Utsaimin]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 523 – 524 Darul Haq]
_________
Foote Note
[1]. Hadits Riwayat At-tirmidzi dalam Al-Adab 2786, ia mengatakan hasan shahih, Abu Dawud juga meriwayatkan seperti itu dalam At-Tarajjul 4174, 4175
[2]. Hadits Riwayat Muslim dalam Ash-Shalah 444
[3]. Dikeluarkan oleh Muslim dalam Al-Libas 2128

Kamis, 27 Oktober 2011

Hijab, Lambang Wanita Muslimah..!


Hijab sebagai bagian dari syariat islam, memiliki batasan-batasan jelas. Para ulama pembela agama Allah telah memaparkan dalam tulisan-tulisan mereka seputar kriteria hijab. http://almanhaj.or.id/content/2992/slash/0
Setiap mukminah hendaknya memperhatikan batasan syariat berkaitan dengan hijab ini. Menjadikan Kitabullah dan Sunnah NabiNya sebagai dasar rujukan dalam beramal, serta tidak berpegang kepada pendapat-pendapat menyimpang dari para pengekor hawa nafsu. Dengan demikian tujuan disyariatkanya hijab dapat terwujud, bi’aunillah.

Diantara syarat-syarat hijab antara lain:

Pertama : Hendaknya menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota tubuh sedikitpun selain yang dikecualikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.


وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَيُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّمَاظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ


"Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminat, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka". [An Nuur:31].


Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.


يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا {59}* لَّئِن لَّمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لاَيُجَاوِرُونَكَ فِيهَآ إِلاَّ قَلِيلاً


"Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin,“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang". [Al Ahzab : 59].


Kedua : Hendaknya hijab tidak menarik perhatian pandangan laki-laki bukan mahram. Agar hijab tidak memancing pandangan kaum laki-laki maka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:


-. Hendaknya hijab terbuat dari kain yang tebal tidak menampakkan warna kulit tubuh.

-. Hendaknya hijab tersebut longgar dan tidak menampakkan bentuk anggota tubuh.

-. Hendaknya hijab tersebut bukan dijadikan sebagai perhiasan bahkan harus memiliki satu warna bukan berbagai warna dan motif.

-. Hijab bukan merupakan pakaian kebanggaan dan kesombongan.

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut.


من لبس ثوب شهرة في الدنيا ألبسه الله ثوب مذلة يوم القيامة ثم ألهب فيه النار.


"Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan di dunia maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan nanti pada hari kiamat kemudian ia dibakar dalam Neraka”. [HR Abu Daud dan Ibnu Majah, dan hadits ini hasan]


-. Hendaknya hijab tersebut tidak diberi parfum atau wewangian. Dasarnya adalah hadits dari Abu Musa Al Asy’ary Radhiyallahu 'anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.


أَيُّماَ امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَليَ قَوْمٍ لِيَجِدوُا رِيْحَهَافهي زَانِيَةٌ.


"Siapapun wanita yang mengenakan wewangian lalu melewati segolongan orang agar mereka mencium baunya, maka ia adalah wanita pezina". [HR Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi, dan hadits ini Hasan]


Ketiga : Hendaknya pakaian atau hijab yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian wanita kafir. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.


"Barangsiapa yang menyerupai kaum maka dia termasuk bagian dari mereka". [HR Ahmad dan Abu Daud]


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutuk laki-laki yang mengenakan pakaian wanita serta mengutuk wanita yang berpakaian seperti laki-laki. [HR Abu daud Nasa’i dan Ibnu Majah, dan hadits ini sahih].


Catatan :

Syaikh Albani dalam kitabnya Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah Fil Kitab Was Sunnah mengatakan, menutup wajah adalah sunnah hukumnya (tidak wajib) akan tetapi yang memakainya mendapat keutamaan. Wallahu a’lam


Tulisan ini saya tujukan kepada saudari-saudariku seiman yang sudah berhijab agar lebih memantapkan hijabnya hanya untuk mencari wajah Allah. Juga bagi mereka yang belum berhijab agar bertaubat dan segera memulainya sehingga mendapat ampunan dari Allah Azza wa Jalla.


Wallahu waliyyut taufiq

(Ummu Ahmad Rifqi )


Maraji’:

-Al Afrah, Ahmad bin Abdul Aziz Hamdani.

-Tanbihaat Ahkaami Takhtasu Bil Mukminaat, Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan.

-Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah Fil Kitabi Was Sunnah, Syaikh Nashiruddin Al Albani.


[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VII/1424H/2003 Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Sabtu, 22 Oktober 2011

Suara Hati Seorang Ikhwan



  1. Wanita Suci

    (Suara Hati Seorang Ikhwan untuk Seluruh Wanita Suci di Dunia)

    Wanita suci,
    Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?
    Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku.
    Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.
    Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.
    Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkan persamaan.

    Wanita suci,
    Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh, karena akan membuatku mengingatmu.
    Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.
    Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
    Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.
    Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh lumpur.
    Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.

    Wanita suci,
    Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.
    Ada ingin tapi tak ada henti.
    Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
    Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kau pertaruhkan.
    Mungkin kau tak peduli
    Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.
    Dan tak lebih dari wanita biasa.

    Wanita suci,
    Jangan pernah kautatapku penuh
    Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk melihatku.
    Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor.
    Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.
    Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari Lumpur.
    Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.
    Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.

    Wanita suci,
    Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu.
    Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.
    Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.
    Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.
    Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.

    Wanita suci
    Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.
    Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.
    Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.
    Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kaubangun dengan segala kekhusyu'an tangis do'amu.

    Wanita suci
    Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya.
    Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.
    Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kaupilih,
    seperti kisah seorang wanita sudi di masa lalu yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
    Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.
    Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta
    dalam setiap denyut nadi kita.




UKHTI, APAKAH ENGKAU MENGINGINKAN KEBAHAGIAAN.. ?

Oleh: Syaikh Ali Bin Abdul Khaliq al-Qorny



Ukhti (Saudariku) Muslimah,

Sesungguhnya kebahagiaan itu semuanya ada dalam ketaatan kepada Allah . Kebahagiaan seluruhnya ada di dalam meniti di atas manhaj (jalan) Allah dan di jalan Rasulullah, Allah berfirman:

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Al-Ahzab: 71)



Sesungguhnya kesengsaraan seluruhnya ada dalam kemaksiatan kepada Allah dan kebinasaan seluruhnya ada pada selain manhaj Allah dan Rasul-Nya, Allah berfirman:

Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata. (Al-Ahzab: 36)



Saudariku Muslimah,

Allah telah memuliakanmu, mensucikanmu dan mengangkat kedudukanmu. Tidak ada ajaran manapun yang lebih tinggi mengangkat derajat wanita selain ajaran Islam. Bahkan Allah banyak menurunkan hukum-hukum yang khusus berkenaan dengan masalah wanita di dalam kitab-Nya yang mulia. Sedangkan sebelum Islam, wanita dijadikan barang dagangan yang murah dan hina, bagaikan perhiasan yang tidak ada nilainya. Hina di mata walinya, hina di mata keluarganya, serta dihina kan oleh masyarakat. Oleh karena itu terkadang ia diperlakukan seperti binatang, bahkan perlakuan mereka terhadap binatang lebih baik daripada memperlakukan wanita.



Sesungguhnya engkau, wahai saudariku muslimah, tidak akan mendapatkan kemuliaan kecuali dalam agama ini, maka berpegangteguhlah (dalam agama ini) dan dengarkanlah firman Allah yang telah menceritakan kisah orang terdahulu, mestilah engkau selalu mengingatnya agar engkau memuji Allah atas kenikmatan yang engkau dapatkan.

Allah berfirman:

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memelihara dengan menanggung kehinaan, ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (An-Nahl: 58-59)



Saudariku Muslimah,

Sesungguhnya musuh-musuhmu banyak sekali, dan sesungguhnya orang yang ingin memanfaatkanmu dalam upaya meruntuhkan agama, rasa malu dan keutamaan banyak sekali, dan boleh jadi mereka itu dari kalangan kita sendiri.

Salah seorang dari mereka (musuh-musuh Islam) berkata: "Tidaklah keadaan negeri Timur menjadi makmur melainkan apabila seorang pemudi melepaskan hijabnya dan membenamkan (menguburkan) Al-Qur'an dengannya!".



Sesungguhnya dengan hal itu mereka ingin mengeluarkanmu menuju kesengsaraan dan kebinasaan, mereka mengajakmu menuju neraka Jahanam. Maka jika engkau menyambut mereka, mereka akan melemparkanmu ke dalamnya. Mereka ingin agar engkau menjadi wanita durhaka, yang berbuat fasiq dan membuka aurat. Mereka berusaha menggiringmu. Mereka menunggumu dengan sangat  sabar agar engkau melepaskan abaya (pakaian muslimah) serta melepaskan hijab dengan segala konsekuensinya, yaitu melepaskan keimanan, rasa malu dan kesucian, kemudian engkau akan meninggalkan kewajiban-kewajiban lainnya. Pada saat itu, perbuatanmu tersebut menyenangkan mereka (para musuh), mereka mempermainkanmu seperti anak-anak bermain dengan bola, dan mereka mempermainkanmu seperti anjing-anjing bermain main dengan bangkai, semoga Allah menjagamu dari mereka.



Saudariku Muslimah,

Buatlah mereka menjadi marah, dengan tidak memperhatikan mereka dan tidak mendengar kan mereka, buatlah mereka menjadi bersedih dengan keteguhanmu berpegang pada agamamu, dengan menjaga rasa malumu dan beriltizam (berpegang teguh) dengan hijabmu.



Saudariku Muslimah,

Sesungguhnya sebagian wanita meggambarkan bahwa sufur adalah membuka muka wanita saja, tidak...tidak ini saja. Sesungguhnya termasuk sufur adalah pakaian yang ketat, yang pendek dan yang tipis. Sesungguhnya termasuk sufur adalah memakai wangi-wangian ketika keluar menuju tempat-tempat yang di dalamnya ada laki-laki. Sesungguhnya termasuk sufur adalah memakai pantalon (celana panjang).



Apakah engkau tidak mendengar sabda Nabi :

“Dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihat keduanya... (dan beliau menyebutkan): Para wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang, mereka menyimpang dari jalan yang benar dan memperlihatkan kejelekan mereka kepada orang lain, kepala mereka seperti punuk unta yang miring mereka tidak akan memasuki surga, dan mereka tidak akan mendapatkan bau surga, sesungguhnya bau surga tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.(HR. Muslim).

Para ulama berkata: makna para wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang adalah bahwa mereka memakai pakaian akan tetapi pakaian-pakaian itu ketat, tipis atau tidak menutup seluruh badan.



Saudariku Muslimah,

Agamamu adalah bentengmu yang amat kokoh, (untuk) memelihara kesucian, rasa malumu dan kemuliaanmu. Agamamu memerintahkanmu untuk berhijab dan memiliki rasa malu. Kapan saja engkau meninggalkan perintah ini, maka engkau akan ditimpa adzab Allah di akhirat sedangkan di dunia engkau menjadi mangsa serigala-serigala manusia yang ingin mencuri kesucianmu agar engkau merasakan kesusahan (kesedihan) sepanjang hidup. Akan tetapi sebagian akhwat -semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka- telah mendengar seruan serigala-serigala itu, tetapi malah bekerja untuk mereka.



Saudariku Muslimah,

Takutlah engkau kepada Allah dan laksanakanlah tugas-tugas yang Dia wajibkan kepadamu. Apabila hatimu mengeras maka ingatlah bencana yang telah menimpa orang lain. Engkau tidak tahu kapan bencana itu akan datang kepadamu, sesungguhnya itu adalah maut yang pasti terjadi.

Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali-Imran: 185)



Ingatlah wahai wanita hamba Allah, pada hari di mana engkau diletakkan dalam kuburan, dalam lubang yang gelap dan sepi itu. Ingatlah ketika sangkakala ditiup dan engkau dikumpulkan bersama para makhluk dalam keadaan tidak memakai alas kaki, telanjang dan kebingungan. Matahari benar-benar akan dekat darimu kurang lebih satu mil, dan engkau akan dipanggil dengan namamu diantara para makhluk untuk dihisab. Bagaimana keadaanmu ketika itu wahai hamba Allah. Di mana persiapanmu wahai wanita yang lalai. Apakah mode-mode pakaian akan bermanfaat ketika itu. Apakah lagu, sinetron, film dan majalah-majalah (yang merusak) akan bermanfaat? Apakah barang-barang permata akan bermanfaat? Tidak demi Allah, hal itu tidak akan memberikan manfaat sedikitpun selamanya. Yang bermanfaat hanyalah kebaikan-kebaikan, dan amal-amal shalih, setelah mendapatkan rahmat dari Rabb bumi dan langit.



Ingatlah, bertaqwalah kepada Allah, wahai engkau yang bercampur baur dengan laki-laki. Bertaqwalah kepada Allah, wahai engkau yang keluar (rumah) dalam keadaan memakai wangi-wangian menuju pasar-pasar dan jalan-jalan. Bertaqwalah kepada Allah wahai engkau yang menawarkan dirimu untuk berkhalwat (menyendiri) dengan laki-laki asing. Tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepi (berduaan) dengan seorang wanita melainkan setan menjadi orang yang ketiga (diantara) keduanya.



Bertaqwalah kepada Allah wahai engkau yang mendidik anak-anakmu dengan pendidikan yang tidak baik/ benar. Engkau tidak mengingatkan mereka dengan ketaatan kepada Allah, tidak menasehati mereka dan tidak menunjukkan mereka pada apa-apa yang dapat memberikan manfaat di dunia dan di akhirat. Bertaqwalah kepada Allah dan jagalah dirimu dari menjadi barang mainan orang-orang yang lemah iman. Bertaqwalah kepada Allah dan kembalilah pada petunjuk sebelum datang suatu hari yang pada hari itu hati-hati dan pandangan-pandangan (mata) dibalikkan. Ketahuilah bahwa adzab Allah sangat keras, dan sesungguhnya engkau -demi Allah- tidak akan kuat merasakan adzab neraka.



Sesungguhnya gunung-gunung jika dilewatkan pada neraka maka dia akan meleleh karena kuatnya panas neraka. Maka dimana engkau wanita yang lemah dibandingkan dengan gunung-gunung yang perkasa dan kokoh Sesungguhnya engkau mampu bersabar atas rasa lapar dan haus, dan engkau mampu bersabar atas bahaya. Akan tetapi demi Allah yang tidak ada ilah (sesembahan) selain Dia, tidak ada kesabaran bagimu terhadap neraka. Ingatlah, maka selamatkanlah dirimu dari neraka sebelum terlambat. Ketahuilah bahwa dunia ini pasti akan berlalu dan akhirat adalah tempat yang kekal.



Semoga Allah memberimu taufiq kepada apa-apa yang dicintai dan diridhai oleh-Nya, dan semoga Allah memberikan manfaat kepadamu dari apa-apa yang engkau dengar dan engkau baca, dan semoga Allah menjadikannya sebagai pendukung bagimu bukan sebagai bumerang

atasmu.



Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad , keluarganya dan para sahabatnya seluruhnya.



Maraji': as-Sunnah edisi 08/ Th V/ 1422H - 2001M, dari salafyoon-online